Minggu, 03 Mei 2020

Corona part1 "Mayat Hidup"


Corona patr1
Mayat Hidup

Januari 2020, hujan terus turun tak hentinya, memuntahkan butiran-butiran beban yang ia bawa. Semilir angin menghembus dingin mengenai  kulit, langit yang hitam enggan pergi membawa derita duka. Ya, aku berlindung di balik kamar pondok yang menjadi rumah keduaku, Namaku Alwi, anak-anak kampus memanggilku dengan sebutan Maul. Aku adalah anak rantau yang sedang berkuliah di kota ini, dengan menatap tetesan hujan yang jatuh di atas kolam, membuat aku rindu akan kampung halaman, namun harus kutahan, aku tahu aku rindu tapi inilah jalannya. 

Yang, hujan turun lagi
Di bawah payung hitam, ku berlindung
Yang ingatkah kau padaku
Di jalan ini dulu kita berdua
Basah tubuh ini
Basah rambut ini
Kau hapus dengan saputanganmu

Yang rindukah kau padaku
Tak ingin kah kau duduk di sampingku
Kita bercerita
Tentang laut biru
Di sana harapan dan impian

Benci-benci tapi rindu jua
Memandang wajah dan senyumu sayang
Rindu-rindu tapi benci jua
Bila ingat kau sakiti hatiku

Antara benci dan rindu di sini
Membuat mataku menangis

Sepertinya hujan telah berhenti, masih ada waktu 20 menit lagi untuk aku berangkat ke kampus, karena bulan ini akan terasa berat sepertinya tak ada yang namanya liburan semester, karena ada program les bahasa dari pihak kampus yang harus aku ikuti.  ahh aku benci! 


Aku matikan musik yang sendari tadi menemaniku meratapi kesedihan ini, sungguh aku galau sekali karena tahun ini aku tidak bisa bertemu dengan keluarga dan teman-temanku di kampung, tapi tak apa-apa ini akan berlalu, dan sepertinya langit mulai cerah, kurasa hujan tidak akan turun kembali, aku takut kalau hujan terus turun karena sudah beberapa hari hujan terus membasahi bumi dan di Jakarta sudah mulai banjir yang ku baca dari beberapa berita di media elektronik, Bandung juga namun karena daerahku ada di atas jadi tidak terkena dampak banjir, syukurlah. 


Sudah pukul 3 lewat dan aku sudah melakukan solat asyar, dan buku-buku sudah ku masukan semua kedalam tas yang aku perlukan untuk les. Dan kurasa bakalan dapat buku baru disana. Aku membuka pintu dan menghirup udara segar, biasanya sehabis hujan udara menjadi sangat sejuk dan menyegarkan. Aku mulai menghirupnya dalam-dalam, tunggu sebentar! Aku terbatuk-batuk, bau apa ini? sialan bau ini menghancurkan ekspetasiku! aku cari sumber bau tersebut, dan bau itu ternyata berasal dari rak sepatu, sungguh ternyata sepatu dan kaos kakiku basah, yang kemarin aku pakai untuk kuliah, dan bukan hanya kaos kaki ku saja yang basah di sana, milik teman-temanku juga. Bagus sekali ini, perpaduan bau yang sangat sempurna untuk memulai hari cerah ini.


Awan hitam sudah mulai menghilang, matahari sudah mulai menampakan dirinya lagi, jalanan yang basah pun bercahaya laksana langit hitam di penuhi bintang-bintang di angkasa yang memantulkan cahaya mentari.  aku sedikit berlari meloncati beberapa genangan air,  aku harus berhati-hati sekarang, aku tidak mau sepatu ini basah juga karena tidak ada sepatu lagi, bisa gawatkan nanti saya kuliah pake apa nyeker? aku terus melangkah menuju kampus menyapa pedagang-pedagang yang selalu aku beli daganganya, merekah sangat ramah, terutama tukang mie ayam yang selalu menyapaku setiap kali kita bertemu.


“Hii broom mau kemana?” kata pedagang mie ayam, aku tidak tahu namanya karena aku belum pernah mendengar ataupun bertanya. 


“Biasa kekampus” kataku 


“Gak makan dulu sini?” tawarnya


“Mungkin nanti malam, sehabis magrib sore ini masih ada pelajaran” 


“Ok semoga berhasil dan sukses” katanya mendoakanku


“Makasih  Mang Broo” balasku tersenyum dan pergi. 


Pedagang-pedagang disini semuanya ramah, dan harga-harga jualan merekah pun murah-murah sekali, cocok untuk kantong mahasiswa haha. Apalagi pedagang batagor di ujung jalan sana, sudah murah porsinya yang banyak, sekali makan saja perut siapapun akan langsung kenyang.
  Benci-benci tapi rindu jua
Memandang wajah dan senyumu sayang
Rindu-rindu tapi benci jua
Bila ingat kau sakiti hatiku
Antara benci dan rindu di sini
Membuat mataku menangis

Ahh sia!l seperti terngiang-ngiang di kepalaku, aku selalu menyanyikan lagu Ini. Setelah memikirkan itu, aku menyanyikanya lagi, ahh sudah cukup kataku akupun berhenti menyanyikanya, namun ketika aku sedang tidak sadar terhadap  sesuatu, lagu itupun muncul kembali. dasar lingkaran setan!



Akhirnya aku sampai di kampus, dan terlihat sepi dimana-mana, ya jelaslah angkatan atas dan bawahku semua sedang liburan semester namun angkatanku masih harus ikut program LES, sempat meminta dispensasi namun ditolak pihak kampus, sudahlah jalani saja saya hanya ingat satu kalimat yang membuat saya terus iklas menjalani sesuatu


“Ini akan berlalu”


kalimat yang penuh makna, ya kesenangan, kesedihan, kenikmatan apapun semuanya sementara dan ini pasti akan berlalu. kehancuran apapun dalam hidupku ini pasti akan berlalu. 


Aku sudah berada di gedung bahasa, cukup ramai ternyata di gedung ini, banyak orang yang sedang menunggu di lobi  dan kursi-kursi telah penuh terisi. Barangkali ada temanku sedang duduk di sana, saat ku lihat ternyata tidak ada sama sekali, ya sudahlah akupun masuk mengarah ke anak tangga, aku mengambil kelas paling atas yakni lantai 4, ada dua anak tangga di sini, sisi gelap dan sisi terang, aku selalu memakai tangga yang gelap, jarang sekali orang melewati tangga tersebut, rasanya sunyi dan sepi, terkadang membuat hati tenang dan terkadaang juga membuat waswas. 


ketika aku melangkah memasuki ruangan itu pintu besi penutup tangga terbuka, suara decitan terdengar seperti suara jeritan seorang gadis memenuhi seisi ruangan yang memanjang keatas dibatasi tembok-tembok menujalng tinggi. terlihat tangga yang gelap dan sunyi, tubuhku berat seakan aku membawa tas yang dipenuhi perbekalan, peluru tajam, senjata, dan beberapa geranat yang aku ambil di kantor polisi di depan sana, senapan mesinku menggantung di dada, dan sebuah golok panjang dengan sarung terikat di pinggangku. Aku mulai mempercepat langkahku menaiki anak tangga ini dari jendela kecil kulihat mayat-mayat bergeletakan di luar sana, ledakan-ledakan keras terdengar, jantungku semakin cepat memompa, beberapa saat kemudian di belakangku terdengar langkah kaki dan teriakan mengaung. Ahh.. merekah mengejarku sampai kesini, gawat aku harus menaiki tangga ini segera. Akupun berlari menaiki tangga tersebut, lampu penerang sedikit remang-remang terlihat bercak darah dimana-mana, sesekali lampu tersebut menyala dan mati. 


Mayat - Mayat hidup itu berlarian mengejarku, aku terus menaiki anak tangga satu-demi satu, aku hampir sampai di lantai dua. Dari atas terdengar suara ketukan orang mengendor-ngendor pintu, aku berlari menghampiri suara tersebut, sesampainya disana kulihat dibalik pintu besi ini seorang perempuan menangis, terus mengetuk-ngetuk pintu agar terbuka, aku berusaha membuka pintu tersebut namun ternyata pintu itu terkunci, sialan aku tidak bisa membuka pintu ini. 


“Tolong siapa saja tolong aku” kata seorang gadis yang berada di sana. 


aku mendekatkan wajahku pada jendela kaca kecil  di pintu tersebut. ia melihatku dan meminta tolong kepadaku, aku berusaha membukanya namun tak bisa, sesaat kemudian ia menjerit dan segerombolan Mayat hidup menyerangnya dan memakan hidup-hidup gadis tersebut, jeritan kerasnya sangat menyayat sekali, kulihat Mayat - Mayat hidup yang mengejarku sudah semakin dekat, aku kembali berlari menaiki anak tangga, melupakan apa yang terjadi namun jeritanya masih terdengar di kepalaku dan aku pun terkejut, di depanku sudah ada salah satu dari merekah, mukanya yang pucat pasi berlumuran darah di mana-mana, mata yang bulat besar keluar dari tempatnya, gigi-gigi merah meneteskan cairan kental, baju yang sobek dan penuh noda darah melekat di tubuhnya, bau tubuh merekah seperti sebuah bangkai, sangat bau sekali aku terbatuk kembali, bau tersebut memenuhi rongga dadaku. ia menyerangku namun aku berhasil menghindar kebelakangnya dan pergi ke atas, namun ia memegang tasku dengan sangat kuat, aku hampir-hampir tartarik olehnya namun tanganku kuat memegang pegangan tangga, ranselku sudah mau putus, aku mengambil golok di pinggangku, dan mengayunkannya ke arah tangan Mayat hidup tersebut, beberapa kali aku hempaskan golok tersebut pada tanganya ahkirnya tangan tersebut putus juga, darahnya mengucur di lantai dan tasku, sampai bajukupun terkena darahnya.


Aku terbebas, kulihat kebawah kumpulan Mayat hidup sudah berada di bawahku, aku kembali mendaki tangga. Hampir sampai di lantai tiga, aku kembali mendengar suara ketukan di balik pintu besi lantai tersebut, namun ketukan ini sangat banyak sekali, setelah sampai disana aku melihat gerombolan Mayat hidup sedang berusaha masuk kedalam tempat ini, untung saja pintu tersebut terkunci kalau tidak aku akan mati di sini karena tidak ada lagi tempat untuk lari. sedikit lagi aku sampai di lantai 4. Aku akan selamat sepertinya disana, kakiku rasanya sudah sangat berat sekali untuk melangkah, namun ku paksakan.

Dari bawah tak terlihat apapun, semuanya sangat gelap sekali, aku hanya bisa mendengar langkah kaki dan erangan merekah, sial aku sudah tak dapat bergerak lagi nafasku sudah sangat berat sekali, aku melangkah terus dan bertanya-tanya kenapa ketika hal ini terjadi tangga ini seakan menjadi sangat jauh,kulihat cahaya matahari masuk melalui jendela di atas sana, itu dia lantai empat aku percepat langkahku, sesekali melihat kebelakang takutnya merekah dekat denganku.


itu dia pintu masuknya, aku menghampiri pintu tersebut, dan menarik gagang besi besar pintu tersebut. ku putar kebawah, namun pintu tak kunjung terbuka, aku menarik perlahan nafasku agar aku tidak panik, kucoba lagi menarik-narik gagang pintu tersebut namun tetap saja tidak terbuka, akhirnya ketenanganku pun hilang aku menjadi sangat panik, tubuhku mulai memanas membuat keringat bercucuran. “ini pasti bercanda… ini pasti bercanda” kataku berulang kali tidak percaya bahwa pintu terkuci, terdengar gerombolan Mayat hidup tersebut semakin dekat, aku panik sekali tak ada jalan lain lagi yang ada hanya sebuah jendela di ujung sana  yang sangat jauh untuk digapai kalaupun aku loncat untuk menggapainya aku akan terjatuh tepat di kumpulan Mayat hidup-Mayat hidup tersebut, ku ketuk ketuk pintu meminta tolong siapa tau ada orang di dalam sana, namun sia-sia tetap saja, badanku sudah sangat lemas sekali aku sudah tidak dapat menahan beban di pundakku, ketika aku mengetuk pintu itu keras-keras gerombolan Mayat hidup tersebut semakin cepat berlari menaiki tangga aku terus berusaha meminta tolong namun tak ada hasil apapun, dalam kepanikan seperti ini aku tidak punya rencana lain. 


Mayat - Mayat hidup sudah sampai hanya beberapa meter dariku, air mataku menetes ketakutan, mungkin ini adalah akhir dari segalanya, badanku tak dapat ku gerakan sama sekali. Aku menengok melihat wajah menyeramkan merekah, darah dimana-mana, tatapan yang menyala kearahku seakan-akan aku adalah tikus yang sudah terjebak di antara kucing, aku sudah pasrah, jantungku berdetak sangat kencang sekali, golok yang ku pegang terjatuh karena aku seperti sudah mematung saking takutnya, pada saat seperti itu aku menelan ludah terakhirku berharap ini sangat tidak menyakitkan, selang 3 meter merekah berlari dan loncat kearahku. 

BERSAMBUNG.....

Bolshoot Game

  Description Game kocak yang tentunya akan membuat anda geleng-geleng kepala. hajar setiap Bols dengan senjata rahasia dapatkan nilai terti...