Corona patr1
Mayat Hidup
Januari 2020, hujan terus turun tak hentinya, memuntahkan
butiran-butiran beban yang ia bawa. Semilir angin menghembus dingin mengenai kulit, langit yang hitam enggan pergi membawa
derita duka. Ya, aku berlindung di balik kamar pondok yang menjadi rumah
keduaku, Namaku Alwi, anak-anak kampus memanggilku dengan sebutan Maul. Aku
adalah anak rantau yang sedang berkuliah di kota ini, dengan menatap tetesan
hujan yang jatuh di atas kolam, membuat aku rindu akan kampung halaman, namun
harus kutahan, aku tahu aku rindu tapi inilah jalannya.
Yang, hujan
turun lagi
Di bawah payung
hitam, ku berlindung
Yang ingatkah
kau padaku
Di jalan ini
dulu kita berdua
Basah tubuh ini
Basah rambut ini
Kau hapus
dengan saputanganmu
Yang rindukah
kau padaku
Tak ingin kah
kau duduk di sampingku
Kita bercerita
Tentang laut biru
Di sana harapan
dan impian
Benci-benci tapi
rindu jua
Memandang wajah
dan senyumu sayang
Rindu-rindu tapi
benci jua
Bila ingat kau
sakiti hatiku
Antara benci dan
rindu di sini
Membuat mataku
menangis
Sepertinya hujan telah berhenti, masih ada waktu 20 menit
lagi untuk aku berangkat ke kampus, karena bulan ini akan terasa berat sepertinya
tak ada yang namanya liburan semester, karena ada program les bahasa dari pihak
kampus yang harus aku ikuti. ahh aku
benci!
Aku matikan musik yang sendari tadi menemaniku meratapi kesedihan
ini, sungguh aku galau sekali karena tahun ini aku tidak bisa bertemu dengan
keluarga dan teman-temanku di kampung, tapi tak apa-apa ini akan berlalu, dan
sepertinya langit mulai cerah, kurasa hujan tidak akan turun kembali, aku takut
kalau hujan terus turun karena sudah beberapa hari hujan terus membasahi bumi
dan di Jakarta sudah mulai banjir yang ku baca dari beberapa berita di media
elektronik, Bandung juga namun karena daerahku ada di atas jadi tidak terkena
dampak banjir, syukurlah.
Sudah pukul 3 lewat dan aku sudah melakukan solat asyar,
dan buku-buku sudah ku masukan semua kedalam tas yang aku perlukan untuk les. Dan
kurasa bakalan dapat buku baru disana. Aku membuka pintu dan menghirup udara
segar, biasanya sehabis hujan udara menjadi sangat sejuk dan menyegarkan. Aku
mulai menghirupnya dalam-dalam, tunggu sebentar! Aku terbatuk-batuk, bau apa ini?
sialan bau ini menghancurkan ekspetasiku! aku cari sumber bau tersebut, dan bau
itu ternyata berasal dari rak sepatu, sungguh ternyata sepatu dan kaos kakiku
basah, yang kemarin aku pakai untuk kuliah, dan bukan hanya kaos kaki ku saja
yang basah di sana, milik teman-temanku juga. Bagus sekali ini, perpaduan bau
yang sangat sempurna untuk memulai hari cerah ini.
Awan hitam sudah mulai menghilang, matahari sudah mulai
menampakan dirinya lagi, jalanan yang basah pun bercahaya laksana langit hitam
di penuhi bintang-bintang di angkasa yang memantulkan cahaya mentari. aku sedikit berlari meloncati beberapa
genangan air, aku harus berhati-hati
sekarang, aku tidak mau sepatu ini basah juga karena tidak ada sepatu lagi, bisa
gawatkan nanti saya kuliah pake apa nyeker? aku terus melangkah menuju kampus
menyapa pedagang-pedagang yang selalu aku beli daganganya, merekah sangat
ramah, terutama tukang mie ayam yang selalu menyapaku setiap kali kita bertemu.
“Hii broom mau kemana?” kata pedagang mie ayam, aku tidak
tahu namanya karena aku belum pernah mendengar ataupun bertanya.
“Biasa kekampus” kataku
“Gak makan dulu sini?” tawarnya
“Mungkin nanti malam, sehabis magrib sore ini masih ada
pelajaran”
“Ok semoga berhasil dan sukses” katanya mendoakanku
“Makasih Mang Broo”
balasku tersenyum dan pergi.
Pedagang-pedagang disini semuanya ramah, dan harga-harga
jualan merekah pun murah-murah sekali, cocok untuk kantong mahasiswa haha. Apalagi
pedagang batagor di ujung jalan sana, sudah murah porsinya yang banyak, sekali
makan saja perut siapapun akan langsung kenyang.
Benci-benci
tapi rindu jua
Memandang wajah
dan senyumu sayang
Rindu-rindu tapi
benci jua
Bila ingat kau
sakiti hatiku
Antara benci dan
rindu di sini
Membuat mataku
menangis
Ahh sia!l seperti terngiang-ngiang di kepalaku, aku selalu
menyanyikan lagu Ini. Setelah memikirkan itu, aku menyanyikanya lagi, ahh sudah
cukup kataku akupun berhenti menyanyikanya, namun ketika aku sedang tidak sadar
terhadap sesuatu, lagu itupun muncul
kembali. dasar lingkaran setan!
Akhirnya aku sampai di kampus, dan terlihat sepi dimana-mana,
ya jelaslah angkatan atas dan bawahku semua sedang liburan semester namun
angkatanku masih harus ikut program LES, sempat meminta dispensasi namun ditolak
pihak kampus, sudahlah jalani saja saya hanya ingat satu kalimat yang membuat
saya terus iklas menjalani sesuatu
“Ini
akan berlalu”
kalimat yang penuh makna, ya kesenangan, kesedihan, kenikmatan
apapun semuanya sementara dan ini pasti akan berlalu. kehancuran apapun dalam hidupku
ini pasti akan berlalu.
Aku sudah berada di gedung bahasa, cukup ramai ternyata di
gedung ini, banyak orang yang sedang menunggu di lobi dan kursi-kursi telah penuh terisi. Barangkali
ada temanku sedang duduk di sana, saat ku lihat ternyata tidak ada sama sekali,
ya sudahlah akupun masuk mengarah ke anak tangga, aku mengambil kelas paling
atas yakni lantai 4, ada dua anak tangga di sini, sisi gelap dan sisi terang,
aku selalu memakai tangga yang gelap, jarang sekali orang melewati tangga
tersebut, rasanya sunyi dan sepi, terkadang membuat hati tenang dan terkadaang
juga membuat waswas.
ketika aku melangkah memasuki ruangan itu pintu besi
penutup tangga terbuka, suara decitan terdengar seperti suara jeritan seorang
gadis memenuhi seisi ruangan yang memanjang keatas dibatasi tembok-tembok
menujalng tinggi. terlihat tangga yang gelap dan sunyi, tubuhku berat seakan
aku membawa tas yang dipenuhi perbekalan, peluru tajam, senjata, dan beberapa
geranat yang aku ambil di kantor polisi di depan sana, senapan mesinku
menggantung di dada, dan sebuah golok panjang dengan sarung terikat di pinggangku.
Aku mulai mempercepat langkahku menaiki anak tangga ini dari jendela kecil kulihat
mayat-mayat bergeletakan di luar sana, ledakan-ledakan keras terdengar,
jantungku semakin cepat memompa, beberapa saat kemudian di belakangku terdengar
langkah kaki dan teriakan mengaung. Ahh.. merekah mengejarku sampai kesini,
gawat aku harus menaiki tangga ini segera. Akupun berlari menaiki tangga
tersebut, lampu penerang sedikit remang-remang terlihat bercak darah dimana-mana,
sesekali lampu tersebut menyala dan mati.
Mayat - Mayat hidup itu berlarian mengejarku, aku terus
menaiki anak tangga satu-demi satu, aku hampir sampai di lantai dua. Dari atas
terdengar suara ketukan orang mengendor-ngendor pintu, aku berlari menghampiri
suara tersebut, sesampainya disana kulihat dibalik pintu besi ini seorang
perempuan menangis, terus mengetuk-ngetuk pintu agar terbuka, aku berusaha
membuka pintu tersebut namun ternyata pintu itu terkunci, sialan aku tidak bisa
membuka pintu ini.
“Tolong siapa saja tolong aku” kata seorang gadis yang
berada di sana.
aku mendekatkan wajahku pada jendela kaca kecil di pintu tersebut. ia melihatku dan meminta
tolong kepadaku, aku berusaha membukanya namun tak bisa, sesaat kemudian ia
menjerit dan segerombolan Mayat hidup menyerangnya dan memakan hidup-hidup gadis
tersebut, jeritan kerasnya sangat menyayat sekali, kulihat Mayat - Mayat hidup
yang mengejarku sudah semakin dekat, aku kembali berlari menaiki anak tangga,
melupakan apa yang terjadi namun jeritanya masih terdengar di kepalaku dan aku pun
terkejut, di depanku sudah ada salah satu dari merekah, mukanya yang pucat pasi
berlumuran darah di mana-mana, mata yang bulat besar keluar dari tempatnya, gigi-gigi
merah meneteskan cairan kental, baju yang sobek dan penuh noda darah melekat di
tubuhnya, bau tubuh merekah seperti sebuah bangkai, sangat bau sekali aku
terbatuk kembali, bau tersebut memenuhi rongga dadaku. ia menyerangku namun aku
berhasil menghindar kebelakangnya dan pergi ke atas, namun ia memegang tasku
dengan sangat kuat, aku hampir-hampir tartarik olehnya namun tanganku kuat memegang
pegangan tangga, ranselku sudah mau putus, aku mengambil golok di pinggangku,
dan mengayunkannya ke arah tangan Mayat hidup tersebut, beberapa kali aku
hempaskan golok tersebut pada tanganya ahkirnya tangan tersebut putus juga,
darahnya mengucur di lantai dan tasku, sampai bajukupun terkena darahnya.
Aku terbebas, kulihat kebawah kumpulan Mayat hidup sudah
berada di bawahku, aku kembali mendaki tangga. Hampir sampai di lantai tiga,
aku kembali mendengar suara ketukan di balik pintu besi lantai tersebut, namun
ketukan ini sangat banyak sekali, setelah sampai disana aku melihat gerombolan Mayat
hidup sedang berusaha masuk kedalam tempat ini, untung saja pintu tersebut
terkunci kalau tidak aku akan mati di sini karena tidak ada lagi tempat untuk
lari. sedikit lagi aku sampai di lantai 4. Aku akan selamat sepertinya disana,
kakiku rasanya sudah sangat berat sekali untuk melangkah, namun ku paksakan.
Dari bawah tak terlihat apapun, semuanya sangat gelap sekali,
aku hanya bisa mendengar langkah kaki dan erangan merekah, sial aku sudah tak
dapat bergerak lagi nafasku sudah sangat berat sekali, aku melangkah terus dan
bertanya-tanya kenapa ketika hal ini terjadi tangga ini seakan menjadi sangat
jauh,kulihat cahaya matahari masuk melalui jendela di atas sana, itu dia lantai
empat aku percepat langkahku, sesekali melihat kebelakang takutnya merekah
dekat denganku.
itu dia pintu masuknya, aku menghampiri pintu tersebut, dan
menarik gagang besi besar pintu tersebut. ku putar kebawah, namun pintu tak
kunjung terbuka, aku menarik perlahan nafasku agar aku tidak panik, kucoba lagi
menarik-narik gagang pintu tersebut namun tetap saja tidak terbuka, akhirnya
ketenanganku pun hilang aku menjadi sangat panik, tubuhku mulai memanas membuat
keringat bercucuran. “ini pasti bercanda… ini pasti bercanda” kataku berulang
kali tidak percaya bahwa pintu terkuci, terdengar gerombolan Mayat hidup
tersebut semakin dekat, aku panik sekali tak ada jalan lain lagi yang ada hanya
sebuah jendela di ujung sana yang sangat
jauh untuk digapai kalaupun aku loncat untuk menggapainya aku akan terjatuh
tepat di kumpulan Mayat hidup-Mayat hidup tersebut, ku ketuk ketuk pintu meminta
tolong siapa tau ada orang di dalam sana, namun sia-sia tetap saja, badanku
sudah sangat lemas sekali aku sudah tidak dapat menahan beban di pundakku, ketika
aku mengetuk pintu itu keras-keras gerombolan Mayat hidup tersebut semakin
cepat berlari menaiki tangga aku terus berusaha meminta tolong namun tak ada
hasil apapun, dalam kepanikan seperti ini aku tidak punya rencana lain.
Mayat - Mayat hidup sudah sampai hanya beberapa meter dariku,
air mataku menetes ketakutan, mungkin ini adalah akhir dari segalanya, badanku
tak dapat ku gerakan sama sekali. Aku menengok melihat wajah menyeramkan
merekah, darah dimana-mana, tatapan yang menyala kearahku seakan-akan aku
adalah tikus yang sudah terjebak di antara kucing, aku sudah pasrah, jantungku
berdetak sangat kencang sekali, golok yang ku pegang terjatuh karena aku
seperti sudah mematung saking takutnya, pada saat seperti itu aku menelan ludah
terakhirku berharap ini sangat tidak menyakitkan, selang 3 meter merekah
berlari dan loncat kearahku.
BERSAMBUNG.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar